Erupsi Anak Krakatau Jadi Alarm Ketahanan Pariwisata NTB Jelang MotoGP 2026
2026-09-07 17:03 WIB · aindari · 👁 784 dibaca

Gangguan penerbangan Lombok–Jakarta akibat abu vulkanik Anak Krakatau dinilai sebagai ujian nyata kesiapan NTB menghadapi lonjakan mobilitas wisatawan saat MotoGP Mandalika.
Erupsi Anak Gunung Krakatau yang mengganggu sejumlah penerbangan rute Lombok–Jakarta sejak Minggu (6/7) memunculkan kekhawatiran serius di kalangan pelaku pariwisata Nusa Tenggara Barat. Bukan karena Lombok terdampak langsung, melainkan karena gangguan pada jalur penerbangan utama itu cukup untuk memutus akses wisatawan menuju destinasi tersebut.
Anggota Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, Ali Muhtasom, menegaskan bahwa sebuah destinasi yang aman sekalipun bisa merasakan dampak pariwisata dari bencana yang terjadi di tempat lain. Ketika salah satu simpul penerbangan utama terganggu, efeknya langsung merambat ke pergerakan wisatawan meski bandara di tujuan tetap beroperasi normal.
Momen ini, menurut Ali, harus dibaca sebagai peringatan dini yang relevan, terutama karena MotoGP Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika kian dekat. Ajang balap internasional itu dikenal sebagai periode ketika mobilitas menuju Lombok melonjak drastis dalam rentang waktu yang sangat singkat. Gangguan konektivitas sekecil apa pun pada momen tersebut berpotensi menimbulkan efek berantai yang luas, mulai dari hotel, transportasi, agen perjalanan, restoran, hingga pelaku UMKM.
Ali menyebut kejadian ini membuktikan bahwa keamanan destinasi tidak otomatis berarti ketahanan destinasi. Oleh karena itu, ia mengusulkan agar NTB menguji setidaknya lima dimensi ketahanan sebelum MotoGP 2026 digelar, yakni ketahanan konektivitas, ketahanan bisnis, ketahanan pengunjung, ketahanan informasi, dan ketahanan destinasi secara keseluruhan.
Sebagai langkah konkret, ia mendorong pelaksanaan simulasi gangguan dengan skenario 24, 48, dan 72 jam menjelang hari penyelenggaraan. Simulasi itu dirancang untuk mengukur kemampuan sistem dalam menyerap gangguan, menjaga kesinambungan layanan wisata, dan mempertahankan fungsi destinasi dalam kondisi kritis.
Ali juga mengusulkan pembentukan Pusat Komando Ketahanan Wisata khusus selama periode MotoGP. Pusat kendali ini diharapkan tidak sekadar memantau kegiatan, tetapi juga mengintegrasikan berbagai data secara real-time, mencakup informasi cuaca dan aktivitas vulkanik, status penerbangan, kapasitas kursi, pergerakan penumpang, ketersediaan kamar hotel, hingga kebutuhan bantuan bagi wisatawan.
Satu rekomendasi lain yang ia sampaikan adalah mendorong wisatawan untuk tiba lebih awal, sehingga kedatangan tidak menumpuk pada sehari sebelum balapan berlangsung. Penyebaran jadwal kedatangan dinilai penting untuk mengurangi risiko kemacetan sistem transportasi dan akomodasi apabila terjadi gangguan mendadak di detik-detik terakhir.
Tag: MotoGP Mandalika, Anak Krakatau, Pariwisata NTB, Ketahanan Destinasi, Konektivitas Penerbangan