Delapan Orang Termasuk Lima Jurnalis Hilang di Perairan Krakatau, Pencarian Diperluas
2026-09-10 08:31 WIB · aindari · 👁 465 dibaca

Tim SAR gabungan memperluas area penyisiran di Selat Sunda setelah speedboat berisi delapan orang, termasuk lima jurnalis dari berbagai media, putus kontak sejak Senin sore.
Delapan orang, lima di antaranya jurnalis dari sejumlah media nasional dan internasional, dinyatakan hilang kontak saat hendak meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Banten. Hingga Rabu (9/9), tim SAR gabungan belum berhasil menemukan keberadaan rombongan maupun kapal yang mereka tumpangi.
Rombongan bertolak menggunakan speedboat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB. Perjalanan menuju kawasan Gunung Anak Krakatau diperkirakan memakan waktu sekitar dua jam. Namun, sinyal komunikasi mulai menghilang hanya beberapa puluh menit setelah kapal meninggalkan dermaga. Pukul 14.42 WIB, salah satu anggota rombongan masih sempat membagikan lokasi kepada rekannya di Lampung — titik terakhir yang tercatat berada di antara Carita dan Gunung Anak Krakatau. Sekitar 22 menit kemudian, pukul 15.04 WIB, komunikasi terputus sepenuhnya.
Satu informasi tambahan diperoleh dari pemandu yang ikut dalam perjalanan. Ia sempat menghubungi istrinya sekitar pukul 18.13 WIB dan menyebut rombongan sudah berada di sekitar Gunung Anak Krakatau. Setelah itu, tidak ada lagi kabar mengenai posisi maupun kondisi kapal.
Lima jurnalis yang berada dalam speedboat tersebut berasal dari berbagai institusi media: M. Bagus Khoirunnas (pewarta foto Kantor Berita Antara), Ari Basuki (pewarta foto Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (pewarta foto iNews.id), Firman Daus (jurnalis Anadolu Agency), dan Donal Husni (pewarta foto lepas). Selain mereka, tiga orang lain turut berada di kapal, yakni nakhoda, anak buah kapal, dan seorang pemandu, sehingga total ada delapan orang yang masih dalam pencarian.
Operasi SAR hari pertama pada Selasa (8/9) menyisir kawasan hingga Pulau Krakatau dan Pulau Panjang, namun tidak menemukan jejak kapal maupun rombongan. Pada Rabu (9/9), pencarian dilanjutkan dengan cakupan area yang lebih luas menggunakan kapal KN SAR Tatuka dan Rigid Inflatable Boat (RIB) Banten. Operasi melibatkan personel dari Basarnas dan Polairud Polda Banten, dilengkapi peralatan SAR air, medis, dan komunikasi. Tim menyisir berdasarkan rute perjalanan dan titik koordinat komunikasi terakhir.
Pencarian di kawasan ini memiliki tantangan tersendiri. Gunung Anak Krakatau masih berstatus aktif, sehingga tim SAR harus memperhitungkan potensi perubahan aktivitas vulkanik yang dapat mengeluarkan material erupsi sewaktu-waktu. Sementara itu, pemilik speedboat, Sandi Wiasa, menyatakan kapal yang digunakan rombongan dalam kondisi laik laut, memiliki dokumen resmi, dan dilengkapi jaket pelampung saat berangkat. Keberadaan delapan orang tersebut masih menunggu hasil pencarian dan keterangan resmi terbaru dari tim SAR di lapangan.
Tag: Gunung Anak Krakatau, jurnalis hilang, SAR Banten, Selat Sunda, Basarnas