Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Nasional

Erupsi Panjang Anak Krakatau Diduga Picu Dentuman hingga Bandung dan Tiga Provinsi

2026-09-05 13:31 WIB · aindari · 👁 1,2rb dibaca

Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau selama lebih dari lima jam pada 5 September 2026 diduga menjadi sumber dentuman dan getaran yang dirasakan warga di Jawa Barat, Banten, dan Lampung.

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas intens. Erupsi berlangsung terus-menerus mulai pukul 23.07 WIB pada 5 September 2026 hingga pukul 04.40 WIB keesokan harinya — lebih dari lima jam tanpa henti. Selama rentang waktu itu, laporan warga dari tiga provinsi, yakni Jawa Barat termasuk kawasan Bandung Raya, Banten, dan Lampung, menyebut adanya suara dentuman disertai getaran.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menyatakan bahwa dentuman dan getaran yang dilaporkan masyarakat di tiga provinsi tersebut diduga kuat berkaitan dengan aktivitas erupsi yang terpantau PVMBG pada periode waktu yang sama. Erupsi jenis lava air mancur atau lava fountain yang berlangsung dalam durasi panjang merupakan fenomena yang lazim terjadi dan dapat menghasilkan aliran lava.

Yang menarik perhatian adalah bagaimana suara dari Selat Sunda bisa terdengar hingga Bandung yang berjarak sekitar 700 kilometer dalam garis lurus. Lana menjelaskan, gelombang suara berfrekuensi rendah mampu merambat ratusan kilometer melalui atmosfer. Faktor seperti perubahan suhu, tekanan udara, dan arah angin di ketinggian dapat membiaskan jalur suara sehingga kembali turun ke permukaan jauh dari titik sumbernya. Kondisi inilah yang membuat sejumlah wilayah pesisir yang secara geografis lebih dekat justru tidak selalu mendengar dentuman dengan jelas, sementara Bandung merasakannya dalam bentuk getaran pada kaca dan pintu.

Dari sisi visual, pengamatan PVMBG mencatat semburan berwarna merah menyala yang berlangsung terus-menerus. Gemuruh erupsi bahkan terdengar hingga Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Banten. Tinggi kolom erupsi belum dapat dipastikan secara resmi.

Merespons kekhawatiran masyarakat soal potensi tsunami, Lana menegaskan bahwa berdasarkan evaluasi terkini, tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi besar 22 Desember 2018 masih tergolong kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu gelombang tsunami. Masyarakat diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

Saat ini Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga, status yang telah diberlakukan sejak 2 Juli 2026. Potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas, dan hujan abu vulkanik yang dapat mengganggu jarak pandang serta kesehatan pernapasan. Radius 3 kilometer dari pusat aktivitas dinyatakan terlarang bagi masyarakat, wisatawan, maupun pendaki.

PVMBG akan terus memantau perkembangan aktivitas gunung ini. Masyarakat dapat mengakses informasi resmi melalui aplikasi MAGMA Indonesia, menghubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di nomor (022) 7272606, atau Pos Pengamatan Gunung Krakatau di (0254) 651449.

Tag: Gunung Anak Krakatau, erupsi, PVMBG, Badan Geologi, Selat Sunda