Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pertanian

Penurunan Produksi Beras 0,08 Persen Dinilai Tak Signifikan, Pemerintah Optimistis Hadapi El Niño

2026-09-07 06:03 WIB · aindari · 👁 893 dibaca

Menteri Pertanian menegaskan surplus beras nasional yang mencapai 4 juta ton menjadi bantalan kuat menghadapi potensi dampak El Niño meski BPS memproyeksikan sedikit penurunan produksi.

Proyeksi penurunan produksi beras nasional yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dinilai tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan angka penurunan tersebut sangat kecil jika diukur terhadap total produksi nasional, sehingga ketahanan pangan Indonesia tetap berada dalam kondisi aman.

BPS memproyeksikan produksi beras nasional sepanjang Januari hingga Oktober 2026 mencapai 31,41 juta ton, turun tipis 0,08 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sekitar 31,44 juta ton. Produksi padi dalam bentuk gabah kering giling (GKG) juga diproyeksikan turun dengan persentase serupa, yakni menjadi 54,52 juta ton. BPS menegaskan bahwa angka Oktober 2026 tersebut masih berstatus proyeksi atau potensi, bukan angka final, sehingga realisasinya masih dapat berubah bergantung pada kondisi pertanaman hingga akhir periode.

Amran menjelaskan bahwa penurunan 0,08 persen dari basis produksi sekitar 34,7 juta ton hanya setara dengan sekitar 30 ribu ton. Angka itu, menurutnya, jauh lebih kecil dibandingkan surplus beras yang berhasil dibukukan Indonesia. Tahun lalu, Indonesia mencatat surplus sekitar 4 juta ton, dan kondisi surplus disebut masih berlanjut pada tahun ini. Dengan cadangan sebesar itu, susut produksi 30 ribu ton dinilai tidak akan menggoyahkan ketersediaan pangan nasional.

Meski demikian, pemerintah tidak mengabaikan tekanan yang ditimbulkan oleh kondisi iklim ekstrem. El Niño menjadi ancaman nyata bagi sektor pertanian, dan Kementerian Pertanian telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi sejak jauh hari. Di antaranya adalah penguatan pompanisasi dan jaringan irigasi untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian, serta penggunaan benih varietas tahan kekeringan.

Selain menjaga pasokan air, pemerintah juga mendorong peningkatan produktivitas melalui metode budidaya baru. Amran menyebut target peningkatan hasil panen per hektare dari semula sekitar 5–6 ton menjadi 10–11 ton sebagai bagian dari strategi tersebut. Pendekatan ini bertujuan mengompensasi potensi penyusutan luas panen akibat dampak iklim dengan mendongkrak produktivitas di lahan yang tersedia.

Amran menegaskan pemerintah tidak akan membiarkan petani menghadapi tantangan iklim sendirian. Berbagai intervensi yang dilakukan sejak dini diharapkan mampu mempertahankan produksi sekaligus memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi. Perkembangan realisasi produksi hingga akhir Oktober 2026 akan terus dipantau, mengingat angka BPS yang beredar saat ini masih bersifat proyeksi dan dapat berubah sesuai kondisi aktual di lapangan.

Tag: produksi beras, El Niño, ketahanan pangan, Kementerian Pertanian, surplus beras