Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Umum

ANTARA Dorong Kolaborasi Media Global Hadapi Misinformasi dan Tantangan AI

2026-11-05 17:04 WIB · aindari · 👁 853 dibaca

Kemitraan antarkantor berita dinilai penting untuk memperkuat verifikasi, penggunaan AI yang bertanggung jawab, serta peliputan isu global.

Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA mendorong penguatan kerja sama antarkantor berita untuk menghadapi misinformasi dan persoalan verifikasi berita. Direktur Utama LKBN ANTARA Abdul Hakim menyampaikan pandangan itu dalam seminar "Forum on Powering Intelligent Media" di Beijing, Kamis, sebagai bagian dari rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-7 World Media Summit (WMS).

Menurut Abdul, kolaborasi tersebut dapat dibangun melalui tiga bidang utama. Pertama, kantor berita perlu saling berbagi informasi tepercaya dan metode verifikasi. Kedua, mereka dapat bertukar pengetahuan tentang pemakaian kecerdasan buatan (AI) secara bertanggung jawab serta inovasi di ruang redaksi. Ketiga, kerja sama diperlukan untuk meliput persoalan global, termasuk keamanan energi, perubahan iklim, perdamaian, dan pembangunan berkelanjutan.

AI kini memengaruhi kerja jurnalistik dengan cepat. Teknologi itu membantu penerjemahan lintas bahasa, pengolahan data, serta penyebaran berita antarnegara. Namun, perkembangan yang sama juga membuka tantangan berupa misinformasi, gambar hasil manipulasi, dan semakin sulitnya membedakan informasi nyata dari konten yang direkayasa. Karena itu, kecepatan penyampaian berita perlu berjalan bersama ketepatan dan kepercayaan.

Abdul menyebut sikap ANTARA terhadap inovasi berangkat dari sejarah lembaga tersebut. ANTARA berdiri pada 13 Desember 1937 oleh empat wartawan muda dan menjadi tempat bagi wartawan Indonesia yang menyebarkan kabar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia kepada masyarakat internasional. Ia mengatakan perubahan teknologi tidak menghapus misi dasar ANTARA, yakni menyediakan informasi tepercaya, melayani masyarakat, dan menghubungkan Indonesia dengan dunia.

Dalam forum yang sama, Wakil Pemimpin Redaksi Xinhua Ren Weidong mengingatkan agar kantor berita tidak membagi media ke dalam kategori maju dan tertinggal. Menurut dia, liputan perlu menggali sejarah serta kepentingan berbagai pihak dalam isu transisi energi, pembangunan hijau, dan tata kelola digital. Media juga dinilai perlu menyuarakan negara-negara di dunia, termasuk negara-negara Selatan Global, melalui jaringan kerja sama lintas negara dan peliputan bersama yang memberi manfaat setara.

WMS berlangsung pada 5-9 November di Beijing dengan tema "Media di Era Kecerdasan: Dari Konsensus Menuju Aksi". Pertemuan ini diikuti hampir 500 delegasi dari sekitar 330 media arus utama, lembaga pemikir, instansi pemerintah, dan organisasi internasional dari 112 negara serta wilayah. Agenda membahas AI, transformasi media, keamanan dunia, pertukaran antarperadaban, tata kelola komunikasi global, dan modernisasi China. Para peserta juga dijadwalkan mengunjungi sejumlah lokasi di Beijing. WMS pertama kali digagas pada 2009 dan berkembang menjadi wadah pertukaran serta kerja sama media tingkat tinggi.

Tag: ANTARA, kecerdasan buatan, misinformasi, World Media Summit, verifikasi berita