ASDP Paparkan Strategi Digitalisasi Penyeberangan Indonesia di Forum Global
2026-11-05 17:10 WIB · aindari · 👁 641 dibaca
ASDP memperkenalkan pengelolaan permintaan, layanan pelanggan, dan koordinasi lintas pihak sebagai fondasi penguatan sistem penyeberangan nasional.
PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) membawa pengalaman pengelolaan penyeberangan Indonesia ke 50th Annual Interferry Conference 2026 di Bangkok, Thailand. Forum industri feri dunia itu berlangsung pada 31 Oktober hingga 4 November 2026. Dalam pertemuan tersebut, ASDP membahas pemanfaatan teknologi digital, peningkatan layanan pelanggan, dan penguatan ketahanan operasional menghadapi perubahan permintaan perjalanan.
Direktur Operasi dan Transformasi ASDP Rio Lasse mengatakan digitalisasi berperan lebih luas daripada sekadar mendukung transaksi tiket. Teknologi digunakan untuk mengenali kebutuhan perjalanan sebelum penumpang dan kendaraan tiba di pelabuhan. Melalui Ferizy, platform pemesanan tiket daring ASDP, perusahaan memperoleh gambaran mengenai pola pemesanan dan jenis kendaraan yang akan menyeberang.
Data itu menjadi bahan untuk menyusun kapasitas, jadwal, serta pengaturan kedatangan. Dengan informasi yang tersedia lebih awal, pengelolaan operasi dapat dilakukan sebelum antrean muncul di kawasan pelabuhan. Kapal dan dermaga bisa disiapkan sesuai kebutuhan, arus kendaraan dapat diatur, sementara respons antar-pihak dalam layanan penyeberangan dapat diselaraskan.
ASDP menilai teknologi bukan satu-satunya penentu ketangguhan operasional. Kesiapan petugas, ketertiban proses kerja, rancangan pengalaman pelanggan, dan koordinasi seluruh unsur terkait juga diperlukan. Kepastian informasi perjalanan, pemesanan sejak awal, serta kemudahan mengganti jadwal dan mengajukan pengembalian dana dinilai dapat mendorong perjalanan yang lebih terencana. Kondisi itu berpotensi mengurangi ketidakpastian operasi ketika permintaan meningkat.
Dalam forum tersebut, ASDP turut menjelaskan pentingnya mengelola lintasan sebagai satu kesatuan, bukan hanya berfokus pada terminal tertentu. Di jalur Merak-Bakauheni, pengaturan permintaan, ketersediaan kapal dan pelabuhan, arus kendaraan, serta kerja sama antarinstansi perlu menggunakan gambaran operasi yang sama. Pusat kendali operasi, data bersama, dan kolaborasi dengan regulator, otoritas pelabuhan, operator, serta pihak terkait menjadi pendukung pendekatan itu.
Rio menyebut terdapat lima kemampuan yang saling menopang dalam membangun sistem penyeberangan tangguh, yakni digital, people, process, customer, dan ecosystem. Unsur digital menyediakan data permintaan; people menjaga kesiapan dan keputusan di lapangan; process memastikan konsistensi kerja; customer menekankan informasi yang jelas dan layanan yang dapat diperkirakan; sedangkan ecosystem menyatukan gerak seluruh pemangku kepentingan. Keikutsertaan dalam Interferry 2026 menjadi ruang pertukaran pengetahuan bagi ASDP untuk mengembangkan layanan yang adaptif, andal, berorientasi pelanggan, dan berkelanjutan bagi konektivitas nasional serta mobilitas masyarakat dan logistik.
Tag: ASDP, penyeberangan, digitalisasi, Ferizy, Interferry 2026