Menggigit Kuku Saat Cemas: Respons Tubuh untuk Meredakan Tegangan
2026-11-08 17:03 WIB · aindari · 👁 701 dibaca
Kebiasaan menggigit kuku dapat memberi rasa lega sesaat, tetapi berisiko merusak kuku dan kulit bila berlangsung terus-menerus.
Menggigit kuku sering muncul ketika seseorang menghadapi rasa gugup, cemas, bosan, atau tekanan. Kebiasaan ini dapat terjadi saat menunggu kabar, mengerjakan tugas, menonton tayangan, bekerja di depan komputer, atau memikirkan masalah. Dalam istilah medis, perilaku tersebut disebut onychophagia dan dapat termasuk body-focused repetitive behaviors (BFRB), yakni tindakan berulang yang berfokus pada bagian tubuh serta berpotensi menimbulkan luka.
Saat cemas, sebagian orang menggigit kuku untuk menurunkan ketegangan. Menurut Merck Manual dalam penjelasan yang ditinjau dokter spesialis pada November 2025, dorongan tersebut dapat diawali rasa gelisah atau tegang. Setelah kuku digigit, perasaan itu mungkin berkurang dan berganti dengan rasa lega. Pengalaman nyaman sementara ini dapat membuat otak mengaitkan perilaku tersebut dengan pengurangan tekanan, sehingga kebiasaan lebih mudah terulang.
Pemicu onychophagia tidak hanya kecemasan. Dokter Cleveland Clinic, Sandra Darling, menyebut menggigit kuku kronis sebagai perilaku self-soothing, atau cara memberi rasa nyaman pada diri sendiri. Seseorang dapat melakukannya ketika bosan, kurang beraktivitas, membaca, menonton televisi, atau berkonsentrasi dalam waktu lama. Tangan bahkan bisa bergerak menuju mulut tanpa disadari.
Kebiasaan ini juga berhubungan dengan pengaturan emosi. Rasa gelisah, frustrasi, malu, dan tertekan dapat dialihkan melalui rangsangan fisik saat menggigit kuku. Psikolog Suzanne Mouton-Odum, PhD, dalam wawancara yang dimuat American Psychological Association, menjelaskan bahwa BFRB memiliki fungsi tertentu bagi pelakunya. Perilaku itu tidak otomatis berarti tindakan menyakiti diri sendiri, meski dapat menimbulkan kerusakan fisik jika dilakukan berlebihan. Karena itu, pemicunya perlu dipahami, bukan hanya dihentikan dengan paksaan.
Menggigit kuku sesekali tidak langsung menunjukkan gangguan psikologis. Kebiasaan tersebut umum terjadi pada anak-anak dan orang dewasa. Tinjauan penelitian dalam International Journal of Environmental Research and Public Health pada 2022 memperkirakan prevalensinya sekitar 20–30 persen populasi umum, dengan perbedaan berdasarkan kelompok usia dan metode penelitian.
Perhatian lebih diperlukan bila seseorang berulang kali gagal menghentikan kebiasaan itu, mengalami kerusakan kuku atau kulit, atau merasakan tekanan emosional dan gangguan dalam aktivitas harian. Penilaian tenaga profesional dibutuhkan untuk menentukan apakah perilaku tersebut termasuk gangguan BFRB. Menggigit terlalu sering dapat memicu luka di sekitar kuku yang menjadi jalan masuk bakteri, lalu menyebabkan kemerahan, bengkak, nyeri, atau nanah. Kuku juga bisa menjadi tidak rata, berubah bentuk, atau terluka.
Tag: menggigit kuku, kecemasan, stres, onychophagia, kesehatan mental