Kementerian Kebudayaan Umumkan 20 Pemenang Sayembara Film Kepahlawanan
2026-09-05 06:08 WIB · aindari · 👁 826 dibaca

Sebanyak 7 film panjang dan 13 film pendek terpilih dari 143 proposal yang masuk, dengan fokus pada era perang mempertahankan kemerdekaan 1945–1950.
Kementerian Kebudayaan resmi mengumumkan dua puluh pemenang program Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan pada Jumat malam (4/7) di Jakarta. Pengumuman disampaikan langsung oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sebuah taklimat media, setelah dewan juri menyelesaikan rapat pleno penilaian.
Dari total 143 proposal yang masuk — melibatkan lebih dari 420 produser, sutradara, dan penulis naskah — terpilih tujuh pemenang kategori film panjang dan tiga belas pemenang kategori film pendek. Ketujuh film panjang yang lolos seleksi adalah "Barisan Penghibur", "Hoegeng: Yang Ada Tinggal Nama", "Rengasdengklok", "Kapalselam Kalibayam", "Sakura di Telawang", "Rai", dan "Pintu Tertutup". Adapun tiga belas film pendek pemenang mencakup judul-judul seperti "Arang Kobar Juang", "Jam 7 Pagi (Makassar, 1947)", "Seriboe Soedirman", "Timur 1950", hingga "Yang Tenggelam Saat Fajar", di antara judul lainnya.
Program ini melewati sejumlah tahapan seleksi yang panjang, mulai dari peluncuran dan sosialisasi, pendaftaran proposal, seleksi administrasi dan substantif, sesi pitching, hingga rapat pleno penjurian. Proposal yang masuk terbagi atas 54 untuk kategori film panjang dan 89 untuk film pendek.
Fadli Zon menyebut sayembara ini lahir dari kebutuhan untuk memberi afirmasi pada genre film kepahlawanan, yang dinilai belum sekuat genre lain dalam ekosistem perfilman nasional. Ia mencatat bahwa film drama, horor, dan genre populer lainnya sudah menguasai sekitar 67 persen pangsa pasar bioskop Indonesia, sementara narasi kepahlawanan masih membutuhkan dorongan khusus.
Sayembara ini secara khusus menyasar periode 1945 hingga 1950 — rentang waktu yang mencakup Agresi Militer Belanda I dan II, pembentukan Pemerintah Republik Indonesia Serikat, hingga kembalinya ke Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1950. Fadli menilai era tersebut merupakan salah satu episode paling banyak didokumentasikan dalam historiografi Indonesia, namun ironisnya masih terasa jauh dari keseharian masyarakat. Medium film diharapkan menjadi jembatan antara catatan sejarah dan pemahaman publik, terutama generasi muda.
Menurut Fadli, film yang berbasis riset dan akurat secara historis berpotensi memperkuat memori kolektif bangsa sekaligus membuka ruang kolaborasi antara sineas, sejarawan, akademisi, dan pelaku industri. Program ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mengangkat nilai-nilai kepahlawanan, patriotisme, dan nasionalisme melalui karya budaya kontemporer.
Kementerian Kebudayaan berharap inisiatif ini tidak hanya meningkatkan literasi sejarah di kalangan penonton, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekosistem perfilman nasional secara lebih luas, termasuk dampak ekonomi bagi para pelaku industri yang terlibat.
Tag: film kepahlawanan, Kementerian Kebudayaan, Fadli Zon, sayembara film, sejarah Indonesia