Komik Indonesia Butuh Sudut Pandang Sendiri, Bukan Sekadar Gaya Visual
2026-09-07 06:12 WIB · aindari · 👁 622 dibaca

Para pegiat komik Indonesia menegaskan bahwa identitas cergam nasional terletak pada cara bertutur dan sudut pandang kultural, bukan pada pilihan gaya gambar.
Dunia komik Indonesia dinilai memerlukan identitas yang kuat — bukan lewat gaya visual tertentu, melainkan lewat cara pandang yang lahir dari pengalaman hidup masyarakatnya sendiri. Hal itu mengemuka dalam sebuah sesi diskusi di Jakarta, Minggu, yang mempertemukan akademisi dan kartunis untuk membicarakan masa depan cerita bergambar atau cergam di Indonesia.
Dosen Universitas MNC, Iwan Gunawan, menegaskan bahwa cergam pada dasarnya bukan soal gaya menggambar. Seniman bebas mengadopsi estetika Eropa, Amerika, atau mana pun. Yang terpenting, menurut Iwan, adalah adanya sudut pandang yang berbeda — sebuah cara merespons persoalan yang khas Indonesia. Perbedaan latar sosial, politik, dan ekonomi masyarakat Indonesia, katanya, seharusnya menghasilkan respons yang tidak sama dengan masyarakat negara lain terhadap isu yang sama.
Iwan mencontohkan isu feminisme yang banyak diangkat komikus dari berbagai penjuru dunia. Meski temanya universal, cara masyarakat Indonesia memandang dan merespons persoalan tersebut semestinya berbeda karena tumbuh dari kondisi kehidupan dan pendidikan yang berbeda pula. Identitas itu, tegasnya, tidak harus diwakili oleh simbol budaya seperti batik atau unsur Jawa, melainkan oleh kultur yang hadir dalam keseharian.
Kartunis Beng Rahadian menambahkan bahwa salah satu pembeda paling nyata adalah cara orang Indonesia bertutur dan berinteraksi sehari-hari. Ia mencontohkan penggunaan sapaan kepada orang yang lebih tua dalam dialog komik sebagai penanda konteks kehidupan Indonesia yang otentik. Beng juga menyebut bahwa pengaruh gaya visual manga tidak menjadi masalah, selama karya tersebut masih memiliki benang merah kultural Indonesia. Ia menunjuk manga Jepang sebagai contoh: di balik keberagaman gayanya, manga tetap memiliki cara bertutur yang khas dan mencerminkan keseharian masyarakatnya.
Dalam diskusi itu, Iwan turut berbagi perjalanan panjang upaya memperkenalkan komik Indonesia kepada generasi muda. Ia menceritakan keterlibatannya dalam pameran komik Indonesia di Galeri Nasional pada 1997 atas ajakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kala itu, banyak anak muda yang belum mengenal komik Indonesia dan lebih akrab dengan komik Jepang. Upaya pengenalan itu kemudian berlanjut melalui berbagai kegiatan, termasuk program di British Council.
Iwan juga menyebut bahwa perkembangan cergam Indonesia sempat mendapat dorongan dari aksi demonstrasi terhadap jaringan toko buku Gramedia pada era 1990-an, di mana massa menuntut agar lebih banyak cergam tersedia untuk masyarakat. Salah satu puncak kebangkitan minat terhadap cergam, menurutnya, terjadi saat komik "Benny & Mice" diterbitkan dan berhasil dicetak hingga ratusan ribu eksemplar — sebuah pencapaian yang menunjukkan bahwa pasar untuk komik lokal sesungguhnya ada dan besar.
Tag: komik Indonesia, cergam, identitas budaya, industri kreatif, kartunis