Suling Berusia 8.000 Tahun Asal Tiongkok Bawakan Lagu Daerah Indonesia di Mal Sarinah
2026-09-07 06:08 WIB · aindari · 👁 872 dibaca

Suling Tulang Jiahu, artefak musik tertua di Tiongkok, tampil memainkan lagu 'Sing Sing So' dalam acara budaya pop-up di Jakarta sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan budaya dua negara.
Sebuah penampilan musik yang tak biasa menyedot perhatian pengunjung Mal Sarinah, Jakarta Pusat, ketika alunan suling tulang kuno memainkan lagu daerah Indonesia. Bukan sembarang suling — alat musik yang dimainkan adalah Suling Tulang Jiahu, artefak berusia lebih dari 8.000 tahun yang berstatus harta karun nasional Tiongkok dan diakui sebagai nenek moyang alat musik tiup di negeri itu.
Penampilan tersebut menjadi bagian dari kegiatan budaya pop-up yang menandai pembukaan rangkaian Konferensi Promosi Pariwisata Budaya Henan dan Pameran Budaya Heluo di Indonesia. Bertajuk "Satu Aliran Sungai Heluo, Persahabatan hingga Kepulauan Nanyang", rangkaian acara ini berlangsung pada 1 hingga 3 September di Jakarta dan Bandung. Banyak warga yang melintas berhenti sejenak, berfoto, dan ikut bersenandung saat lagu "Sing Sing So" mengalun dari panggung.
Suling Tulang Jiahu dimainkan bersama gendang pinggang berbahan tembikar, menghasilkan perpaduan suara yang dalam sekaligus jernih. Alat musik ini ditemukan di Situs Jiahu, wilayah Wuyang, Kota Luohe, Provinsi Henan, dan tercatat sebagai artefak alat musik tertua yang pernah digali di Tiongkok. Dengan panjang 23,6 sentimeter, suling ini terbuat dari tulang sayap burung bangau dan memiliki tujuh lubang nada — memungkinkannya memainkan tangga nada heptatonik. Para ahli menyebutnya sebagai alat musik tiup tertua di dunia yang mampu memainkan tujuh nada tersebut.
Yang menarik, Suling Tulang Jiahu dan suling bambu tradisional Indonesia ternyata memiliki keselarasan yang mencolok meski lahir dari dua peradaban berbeda dan terpisah ribuan kilometer. Keduanya sama-sama menjadi bukti bahwa ketertarikan manusia terhadap musik telah ada sejak awal peradaban, melampaui batas material maupun geografi.
Kedekatan budaya musik dua negara ini juga tercermin dari sejumlah lagu yang telah melintas batas. Lagu Mandarin "Rembulan Mewakili Hatiku" kini hadir dalam versi bahasa Indonesia, sementara "Bengawan Solo" pernah dibawakan di panggung perayaan Tahun Baru Imlek di Tiongkok. Lagu "Bunga Melati" pun disebut sebagai melodi yang akrab di telinga masyarakat kedua negara.
Melalui acara ini, Provinsi Henan memperkenalkan kekayaan budaya Heluo kepada publik Indonesia, sekaligus menjadikan musik sebagai medium diplomasi budaya yang melampaui perbedaan bahasa. Suling berusia ribuan tahun itu, yang kini memainkan lagu-lagu Nusantara, menjadi simbol bahwa warisan peradaban bisa menjadi jembatan persahabatan antarbangsa.
Tag: Suling Tulang Jiahu, Budaya Henan, Pertukaran Budaya, Indonesia Tiongkok, Musik Tradisional