Abu Vulkanik Anak Krakatau Sampai di Cimahi, Pakar Ingatkan Bahaya bagi Pernapasan
2026-09-06 12:31 WIB · aindari · 👁 1,1rb dibaca

Sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau menjangkau wilayah Bandung Raya, termasuk Kota Cimahi, disertai peringatan dari pakar soal risiko kesehatan.
Abu vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau ternyata menjangkau wilayah yang cukup jauh dari sumber letusan. Warga Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat, melaporkan kendaraan mereka tertutup partikel keabu-abuan pada Minggu pagi, padahal sehari sebelumnya masih dalam kondisi bersih.
Salah satu warga, Yogi Dwi Arianto, mengungkapkan ia terkejut mendapati mobilnya yang masih bersih pada Sabtu malam sudah dipenuhi lapisan debu berwarna keabu-abuan ketika diperiksa keesokan harinya. Ia menyebut partikel tersebut terasa berbeda dari debu pada umumnya — lebih kasar dan lengket di permukaan kendaraan. Karena sifatnya itu, ia khawatir membersihkannya sembarangan justru bisa menimbulkan goresan, dan mempertimbangkan untuk menutup kendaraannya sementara waktu.
Pakar Kebencanaan dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa kesan kasar yang dirasakan warga memang sesuai dengan karakteristik abu vulkanik. Berbeda dari debu rumahan yang bertekstur lunak, partikel abu vulkanik merupakan pecahan kaca silika dan batuan berukuran mikroskopis, umumnya di bawah dua milimeter, sehingga sulit disaring dengan cara biasa.
Yang lebih mengkhawatirkan, menurut Daryono, adalah kandungan kimiawi abu vulkanik itu sendiri. Partikelnya diselimuti senyawa asam seperti asam sulfat dan asam klorida, serta mengandung berbagai logam berat dan mineral. Ketika terhirup atau menempel pada jaringan tubuh yang lembap, kandungan asam tersebut dapat bereaksi secara agresif dan merusak jaringan.
Dalam jangka pendek, paparan abu vulkanik berisiko menyebabkan iritasi saluran pernapasan, batuk, sesak napas, hingga iritasi pada mata dan kulit. Kelompok yang paling rentan adalah mereka yang sudah memiliki gangguan pernapasan, seperti penderita asma. Partikel halus abu vulkanik bahkan dapat menembus jauh ke dalam paru-paru.
Daryono mengimbau masyarakat di wilayah terdampak sebaran abu untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Bagi yang terpaksa keluar, ia menyarankan penggunaan kacamata pelindung dan masker dengan tingkat filtrasi tinggi. Masker kain biasa, tegasnya, tidak cukup efektif untuk menahan partikel berukuran mikroskopis tersebut.
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau diketahui telah berdampak lebih luas; sebelumnya BNPB mencatat 15 kecamatan di wilayah Lampung dan Banten terdampak erupsi, sementara empat bandara sempat ditutup sementara akibat gangguan abu di jalur penerbangan.
Tag: Gunung Anak Krakatau, abu vulkanik, Cimahi, erupsi, kesehatan