Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Sains

Hipotesis 'Acoustic Shadow Zone' Menjelaskan Dentuman Misterius di Bandung Raya

2026-09-07 06:10 WIB · aindari · 👁 978 dibaca

Pakar vulkanologi ITB menyebut fenomena pembiasan gelombang suara di atmosfer sebagai penjelasan ilmiah paling masuk akal atas dentuman yang terdengar di Bandung pascaerupsi Gunung Anak Krakatau.

Dentuman keras yang mengejutkan warga Bandung Raya belum terjawab tuntas, namun seorang pakar dari Institut Teknologi Bandung menawarkan hipotesis ilmiah yang menjanjikan. Mirzam Abdurrachman, dosen vulkanologi dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, menunjuk fenomena atmosfer bernama acoustic shadow zone — atau zona bayangan suara — sebagai kandidat penjelasan paling kuat.

Fenomena ini bekerja dengan cara yang tidak intuitif. Gelombang suara dari erupsi Gunung Anak Krakatau justru tidak terdengar jelas di kawasan pesisir yang secara geografis lebih dekat dengan Selat Sunda, sementara suaranya malah terdengar sangat keras di wilayah pegunungan Jawa Barat yang berjarak ratusan kilometer. Mirzam menjelaskan, perbedaan suhu udara serta arah dan kecepatan angin pada ketinggian tertentu dapat membelokkan gelombang suara ke atas — proses yang disebut upward refraction — hingga melampaui zona bayangan, lalu memantulkannya kembali ke permukaan bumi di lokasi yang jauh dari sumber.

Proses itu tidak berhenti di situ. Sebagian energi suara yang bergerak di atas zona bayangan dapat menyebar akibat turbulensi atmosfer, dan dalam kondisi tertentu mengalami difraksi sehingga sebagian energinya kembali menjangkau permukaan di tempat yang lebih jauh. Kombinasi mekanisme inilah yang, menurut Mirzam, secara teknis memungkinkan suara erupsi terdengar di Bandung.

Meski demikian, Mirzam menegaskan bahwa kedekatan waktu antara erupsi Anak Krakatau dan munculnya dentuman belum cukup untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat. Ia menyebut dentuman tersebut masih merupakan pertanyaan terbuka yang membutuhkan kajian lebih mendalam, bukan sebuah kesimpulan. Tim peneliti masih perlu mencocokkan jeda waktu kedatangan gelombang suara, karakteristik sinyal, kondisi topografi, hingga dinamika atmosfer di bagian barat Pulau Jawa.

Pandangan Mirzam ini hadir di tengah perbedaan sikap antarlembaga. Badan Geologi sebelumnya menduga kuat adanya kaitan antara dentuman dan erupsi lava fountain Krakatau, sementara BMKG menyatakan tidak merekam aktivitas seismik lokal di Bandung Raya dan tidak menemukan kondisi angin yang mendukung terjadinya fenomena tersebut. Hipotesis acoustic shadow zone secara tidak langsung menjembatani dua posisi yang berlawanan itu.

Terkait status Gunung Anak Krakatau yang masih berada di Level III atau Siaga, Mirzam mengimbau masyarakat untuk tidak panik. Ia mendorong peningkatan literasi bencana dan mengingatkan agar warga mematuhi batas aman dengan tidak memasuki radius tiga kilometer dari kawah aktif.

Tag: acoustic shadow zone, Gunung Anak Krakatau, dentuman Bandung, vulkanologi, ITB