Erupsi Gunung Anak Krakatau Picu Kekhawatiran Kesenjangan Belajar Anak saat PJJ Diberlakukan
2026-09-07 17:10 WIB · aindari · 👁 941 dibaca

Plan Indonesia mengingatkan bahwa kebijakan pembelajaran jarak jauh akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berisiko memperburuk ketimpangan akses pendidikan jika tidak disertai dukungan memadai.
Sejumlah daerah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) mulai memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sebagai respons atas ancaman kesehatan dari paparan abu vulkanik. Namun Plan Indonesia memperingatkan bahwa kebijakan ini menyimpan risiko tersendiri: tanpa dukungan yang cukup, PJJ justru berpotensi memperlebar kesenjangan akses pendidikan antaranak.
Direktur Eksekutif Plan Indonesia, Dini Widiastuti, menegaskan bahwa keputusan memindahkan pembelajaran dari sekolah ke rumah tidak bisa berhenti sebatas kebijakan administratif. Pemerintah dan sekolah perlu memastikan setiap anak memiliki perangkat digital, koneksi internet yang stabil, ruang belajar yang kondusif, serta pendampingan dari orang tua atau pengasuh. Kenyataannya, tidak semua anak berada dalam kondisi tersebut.
Plan Indonesia mendorong sekolah dan pemerintah daerah untuk menyiapkan mekanisme pembelajaran alternatif yang inklusif dan aman, terutama bagi anak-anak yang tidak dapat mengakses pembelajaran daring. Jika situasi erupsi berlanjut atau eskalasi level ancaman meningkat, alternatif seperti pemanfaatan media penyiaran publik atau metode belajar mandiri perlu segera disiapkan agar tidak ada anak yang tertinggal dalam proses belajar di masa darurat.
Di luar soal akses teknologi, Plan Indonesia juga menyoroti dimensi psikososial yang kerap luput dari perhatian. Anak-anak rentan mengalami ketakutan, kebingungan, dan kecemasan ketika menghadapi perubahan lingkungan mendadak akibat bencana. Orang tua, guru, dan orang dewasa di sekitar anak memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi yang benar, sederhana, dan sesuai usia — tanpa menakut-nakuti, namun juga tanpa meremehkan situasi. Anak perlu diberi ruang untuk bertanya dan mengungkapkan perasaan mereka.
Dini menekankan bahwa respons bencana harus memandang kebutuhan anak secara menyeluruh. Perlindungan dari paparan abu dan risiko kesehatan memang prioritas, tetapi kebutuhan anak akan rasa aman, dukungan emosional, dan kesinambungan belajar sama-sama tidak boleh diabaikan. Situasi erupsi, menurutnya, harus dilihat sebagai persoalan pemenuhan hak anak dalam kondisi darurat, bukan sekadar gangguan operasional sekolah.
Sebagai langkah praktis, Plan Indonesia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang sekaligus waspada, meminimalkan paparan abu vulkanik, serta memantau kondisi anak secara seksama. Masyarakat juga dianjurkan mengikuti informasi dan arahan resmi dari PVMBG, BMKG, BNPB, serta pemerintah daerah setempat.
Tag: Gunung Anak Krakatau, pembelajaran jarak jauh, Plan Indonesia, pendidikan darurat, erupsi vulkanik