Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Pendidikan

ADBI: Pendidikan dan Teknologi Jadi Pilar Utama Negara Asia Raih Status Maju

2026-09-08 17:13 WIB · aindari · 👁 963 dibaca

CEO ADBI Bambang Brodjonegoro menegaskan tidak ada formula tunggal menuju kemajuan, namun komitmen jangka panjang pada pendidikan, teknologi, dan tata kelola pemerintahan menjadi kunci yang terbukti berhasil.

Penguasaan teknologi dan investasi di bidang pendidikan dinilai sebagai fondasi yang tidak bisa diabaikan oleh negara-negara Asia yang ingin naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi. Pandangan itu disampaikan CEO Asian Development Bank Institute (ADBI) Bambang Brodjonegoro dalam konferensi bersama Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, Selasa, yang membahas visi pembangunan jangka panjang negara-negara Asia.

Bambang menekankan bahwa tidak ada satu resep tunggal yang bisa menjamin keberhasilan sebuah negara. Yang justru menentukan, menurutnya, adalah konsistensi selama beberapa dekade dalam membangun fondasi ekonomi — mencakup pendidikan, teknologi, dan tata kelola pemerintahan yang baik.

Sejumlah negara dijadikan contoh konkret. Polandia, misalnya, berhasil masuk kelompok berpendapatan tinggi hanya dalam satu generasi. Pencapaian itu bukan buah dari satu kebijakan revolusioner, melainkan hasil akumulasi dari pembangunan institusi yang berkelanjutan, konsistensi arah reformasi ekonomi lintas pergantian pemerintahan, integrasi dengan pasar Eropa, serta investasi sumber daya manusia yang terus-menerus. Pola serupa juga terlihat pada Singapura, Jepang, dan Korea Selatan — meski titik awal masing-masing berbeda, ketiganya berbagi kesamaan berupa visi jangka panjang dan kemampuan beradaptasi saat kondisi ekonomi berubah.

Bambang mengingatkan bahwa seiring pertumbuhan ekonomi, sumber pertumbuhan itu sendiri harus ikut berevolusi. Keunggulan biaya produksi murah, akumulasi modal, atau perpindahan tenaga kerja dari pertanian ke manufaktur tidak bisa diandalkan selamanya. Pertumbuhan yang berkelanjutan semakin bertumpu pada peningkatan produktivitas, inovasi, keterampilan tenaga kerja, dan institusi yang mampu merespons kompleksitas ekonomi modern.

Tantangan konteks global saat ini pun berbeda dari generasi sebelumnya. Fragmentasi geopolitik memengaruhi perdagangan, investasi, dan rantai nilai global. Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) serta teknologi digital mengubah lanskap produktivitas dan daya saing. Di saat yang sama, transisi menuju ekonomi rendah karbon membuka peluang baru sekaligus menuntut biaya penyesuaian yang tidak kecil. Karena itu, strategi pembangunan yang terbukti berhasil pada generasi lalu belum tentu bisa diterapkan begitu saja pada kondisi saat ini.

Menghadapi kompleksitas tersebut, Bambang mendorong negara-negara Asia untuk memiliki arah pembangunan jangka panjang yang jelas sekaligus membangun kapasitas adaptasi. Perencanaan jangka panjang, tegasnya, bukan soal memprediksi wajah ekonomi 20 atau 30 tahun ke depan secara tepat, melainkan soal menetapkan arah yang kokoh sambil membangun institusi, sumber daya manusia, dan kemampuan produksi yang memungkinkan sebuah negara tetap relevan di tengah perubahan.

Tag: pendidikan, teknologi, ADBI, negara maju, pembangunan ekonomi