Menembus Medan Ekstrem, Tim Medis Kemenkes Kejar Warga Terdampak Gempa Ende
2026-09-08 10:01 WIB · aindari · 👁 990 dibaca

Relawan kesehatan rela mendaki 2,5 jam dan berlayar dua jam demi menjangkau desa terpencil yang terisolasi pascagempa di Kabupaten Ende, NTT.
Bencana gempa di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, tidak hanya merusak bangunan dan infrastruktur, tetapi juga memutus akses warga terhadap layanan kesehatan dasar. Di tengah kondisi itu, relawan dari Tim Cadangan Kesehatan (TCK) Kementerian Kesehatan terus bergerak menjangkau permukiman yang terisolasi, meski harus melewati jalur pegunungan rusak, tebing curam, dan perairan selatan Pulau Ende.
Dr. Halik Malik, salah satu relawan yang ditugaskan di Puskesmas Ndona, menceritakan bahwa sebagian besar wilayah kerjanya hanya bisa dicapai oleh pengemudi berpengalaman atau dengan berjalan kaki. Perjalanan paling berat dilakukan saat tim menggelar klinik bergerak ke Desa Nila — sekitar tiga jam berkendara, lalu dilanjutkan pendakian kaki selama 2,5 jam. Untuk perjalanan pulang, tim memilih jalur laut dari dermaga darurat, menempuh sekitar dua jam perjalanan kapal motor menyusuri pesisir selatan agar lebih efisien waktu.
Di lokasi pengungsian, tim mendapati warga yang masih bertahan di rumah masing-masing dengan tenda darurat di halaman, sementara mereka yang rumahnya rusak berat menunggu bantuan hunian sementara. Kondisi pengungsian yang tidak ideal memunculkan berbagai gangguan kesehatan: infeksi saluran pernapasan, gangguan lambung, hipertensi, nyeri sendi, hingga gangguan tidur. Pasien dengan penyakit kronis mengalami perburukan kondisi karena akses ke fasilitas kesehatan terganggu. Tim juga menemukan kasus yang memerlukan penanganan segera, termasuk persalinan darurat dan gagal napas pada balita akibat infeksi saluran pernapasan. Selain fisik, sejumlah warga menunjukkan gejala trauma dan kecemasan akibat gempa susulan yang masih terus terjadi.
Model pelayanan bergerak — mendatangi langsung warga dari desa ke desa — menjadi strategi utama selama fasilitas kesehatan tetap belum bisa beroperasi normal. Menurut dr. Halik, pendekatan ini efektif memastikan warga di pelosok pun mendapat tindakan medis yang semestinya. Kedatangan tim disambut antusias oleh masyarakat yang selama ini harus menempuh jarak jauh hanya untuk berobat, sementara sejumlah puskesmas pembantu di wilayah terdampak belum berfungsi optimal.
Dari 28 puskesmas di Kabupaten Ende, setidaknya 12 mendapat dukungan relawan TCK Kemenkes. Banyak puskesmas yang sebelumnya beroperasi 24 jam kini beralih menjadi posko tenda karena gedungnya rusak dan sebagian petugasnya ikut menjadi korban. Dr. Halik menyebut tantangan terbesar sebenarnya sudah ada sebelum bencana, yakni kapasitas layanan kesehatan dasar yang memang belum memadai, dan situasi pascagempa memperparah kondisi tersebut dengan jalan putus serta longsor di berbagai titik.
Kemenkes menyatakan terus memperkuat respons bersama pemerintah daerah melalui pengerahan tenaga kesehatan tambahan, pelayanan bergerak, tenda layanan, dan distribusi logistik medis, demi menjaga kesinambungan layanan hingga fasilitas kesehatan yang terdampak selesai dipulihkan.
Tag: gempa NTT, tenaga kesehatan, Kabupaten Ende, klinik bergerak, bencana alam