OpenAI Klaim Pecahkan Persamaan Navier-Stokes dalam 88 Jam, Tapi Kontroversi Ikut Menyertai
2026-09-09 17:06 WIB · aindari · 👁 460 dibaca

Sistem AI internal OpenAI yang melampaui GPT-6 Astra disebut berhasil menyelesaikan salah satu soal matematika paling sulit di dunia, namun klaim itu langsung memicu pertanyaan soal etika riset.
OpenAI mengumumkan pencapaian yang mengejutkan komunitas matematika global: sistem AI internal mereka berhasil memecahkan persamaan Navier-Stokes, salah satu dari tujuh soal paling sulit dalam sejarah matematika yang tergabung dalam daftar Millenium Prize Problems versi Institut Matematika Clay. Proses pemecahan itu diklaim hanya membutuhkan waktu 88 jam.
Persamaan Navier-Stokes sendiri telah menjadi teka-teki bagi para ilmuwan selama sekitar 90 tahun. Secara sederhana, soal ini mempertanyakan apakah persamaan yang menggambarkan pergerakan fluida — seperti udara dan air — dapat mengalami kegagalan dalam kondisi tertentu. Jawaban yang dihasilkan sistem OpenAI menyimpulkan bahwa persamaan tersebut memang bisa gagal: dalam situasi tertentu, kecepatan fluida bisa menjadi tak terhingga, kondisi yang oleh para peneliti disebut sebagai "meledak".
Pencapaian itu diraih oleh sistem yang diklaim lebih canggih dari model GPT-6 Astra terbaru OpenAI, dengan melibatkan sekitar 10.000 agen AI yang bekerja secara paralel. Setelah solusi ditemukan, verifikasi dilakukan menggunakan GPT-6 Astra dan memakan waktu sekitar 17 jam. Dalam pernyataan resmi di blog mereka, para peneliti OpenAI menegaskan bahwa salah satu tujuan utama pekerjaan mereka adalah memberdayakan ilmuwan untuk memajukan penelitian yang bermanfaat bagi umat manusia.
Namun pengumuman ini tak lama kemudian memantik kontroversi. Tristan Buckmaster, profesor matematika dari Universitas New York yang juga bekerja sama dengan peneliti di Anthropic — rival langsung OpenAI — mengungkapkan kekhawatirannya bahwa OpenAI mempercepat pengumuman terobosan ini setelah mendengar bahwa kelompoknya akan mempublikasikan hasil serupa. Buckmaster juga mempertanyakan kemungkinan bahwa pekerjaan risetnya yang tersimpan di model Codex milik OpenAI turut dimanfaatkan, mengingat Codex memang dirancang untuk membaca dan menulis kode program. Meski begitu, ia secara eksplisit menyatakan tidak menuduh siapa pun melakukan pelanggaran.
Merespons hal tersebut, peneliti OpenAI Sebastien Bubeck membantah klaim itu dalam konferensi pers terpisah. Ia menegaskan bahwa OpenAI tidak mengakses materi yang dibagikan melalui server mereka. Bubeck menjelaskan bahwa motivasi perusahaan memecahkan soal Navier-Stokes berawal dari kabar bahwa dua dari tujuh soal Millenium Prize Problems mulai menunjukkan tanda-tanda bisa diselesaikan. Ia tetap mengakui kemungkinan bahwa data dari pengguna produk OpenAI secara umum mungkin berkontribusi pada peningkatan model mereka.
Terlepas dari polemik yang menyertainya, terobosan ini membuka diskusi lebih luas tentang sejauh mana AI tingkat lanjut mampu mengubah lanskap penelitian matematika dan sains. Bagi Bubeck, hasil ini merupakan puncak dari perkembangan yang telah berlangsung selama 12 bulan terakhir. Adapun bagi siapa pun yang berhasil memecahkan salah satu soal Millenium Prize Problems, Institut Matematika Clay menyediakan hadiah senilai satu juta dolar AS atau sekitar Rp17 miliar.
Tag: OpenAI, Navier-Stokes, Kecerdasan Buatan, Matematika, Millenium Prize Problems