BPOM Dorong Keterlibatan Industri Farmasi Demi Ekosistem Uji Klinis yang Mandiri
2026-09-05 17:11 WIB · aindari · 👁 1,2rb dibaca

BPOM mengajak industri farmasi dalam dan luar negeri berkolaborasi membangun ekosistem uji klinis nasional yang kompetitif dan berkelanjutan.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menegaskan pentingnya keterlibatan industri farmasi, baik domestik maupun asing, dalam memperkuat ekosistem uji klinis di Indonesia. Ajakan ini disampaikan Kepala BPOM Taruna Ikrar saat menghadiri Annual Meeting IASMED 2026 di Jakarta, Sabtu, sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemandirian obat dan alat kesehatan nasional.
Taruna menekankan bahwa uji klinis merupakan pintu masuk wajib bagi semua produk kesehatan sebelum boleh digunakan dalam pengobatan pasien, mencakup obat-obatan berbahan kimia maupun biologi, serta berbagai alat kesehatan. Karena biaya pelaksanaannya yang tidak sedikit, dukungan industri menjadi faktor krusial agar penelitian klinis dapat berjalan secara berkelanjutan.
Menurut Taruna, Indonesia sebenarnya memiliki modal yang cukup untuk menjadi lokasi uji klinis yang kompetitif, mulai dari ketersediaan fasilitas hingga keragaman kasus medis yang dapat menjadi objek penelitian. Ia menyebut tiga pilar utama yang perlu diperkuat secara bersamaan: pembangunan ekosistem yang melibatkan BPOM, Kementerian Kesehatan, rumah sakit, dan fasilitas penelitian; pengembangan ilmu pengetahuan serta kapasitas sumber daya manusia pelaksana uji klinis, termasuk kesiapan fasilitas dan penerapan standar etika; serta penguatan dukungan industri untuk memperluas kapasitas dan menjamin keberlanjutan riset.
Di sisi regulasi, BPOM berkomitmen menciptakan kerangka aturan yang kondusif agar lingkungan uji klinis di Indonesia semakin hidup dan menarik bagi investor riset global. Komitmen serupa juga datang dari Kementerian Kesehatan yang disebut siap bersinergi dalam membenahi berbagai aspek pelaksanaan uji klinis.
Forum Annual Meeting IASMED 2026 sendiri dipandang sebagai ruang strategis untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari regulator, akademisi, rumah sakit, industri farmasi, hingga Contract Research Organization (CRO) dan para profesional uji klinis, guna mempererat kolaborasi lintas sektor.
Presiden IASMED Endang Hoyaranda menyatakan keyakinannya bahwa sinergi yang semakin solid antara pemerintah, regulator, akademisi, fasilitas kesehatan, dan industri berpotensi menarik lebih banyak investasi uji klinis global. Pada gilirannya, hal itu dapat mempercepat akses masyarakat terhadap inovasi pengobatan, vaksin, dan teknologi kesehatan, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.
IASMED menegaskan komitmennya untuk terus menjaga momentum positif yang telah terbangun melalui kolaborasi lintas sektor dan penguatan kompetensi sumber daya manusia, dengan tetap menempatkan keselamatan pasien sebagai prioritas utama dalam setiap tahapan pengembangan ekosistem uji klinis nasional.
Tag: BPOM, uji klinis, industri farmasi, IASMED, kemandirian kesehatan