Dokter Paru: Pantau Indikator Kualitas Udara Sebelum Beraktivitas di Musim Karhutla
2026-09-06 06:07 WIB · aindari · 👁 1,1rb dibaca

Pakar kesehatan mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak karhutla untuk menjadikan indikator kualitas udara sebagai acuan utama sebelum keluar rumah.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof Tjandra Yoga Aditama, menegaskan pentingnya akses masyarakat terhadap informasi indikator kualitas udara di tengah ancaman asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurutnya, indikator yang menunjukkan kategori merah, kuning, atau hijau — dan diperbarui secara berkala — harus menjadi pegangan warga sebelum memutuskan untuk beraktivitas di luar ruangan.
Tjandra menjelaskan, ketika indikator menunjukkan kategori merah, masyarakat sebaiknya tidak keluar rumah sama sekali. Kondisi itu dinilai layak untuk memberlakukan sekolah dari rumah maupun kerja dari rumah. Sebaliknya, pada kategori kuning, keputusan masih bisa dipertimbangkan, dengan catatan fasilitas sekolah memiliki sistem sirkulasi udara yang memadai agar udara di dalam kelas tetap bersih. Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menyebut bahwa indikator semacam ini merupakan salah satu anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan seharusnya dijadikan acuan bersama oleh warga, pengelola sekolah, maupun pemerintah daerah.
Bagi mereka yang terpaksa beraktivitas di luar rumah, Tjandra menyarankan penggunaan masker yang disesuaikan dengan tingkat kepekatan asap. Petugas pemadam kebakaran hutan dianjurkan memakai respirator, bukan masker kain. Sementara masyarakat umum yang hendak pergi ke kantor atau sekolah disarankan menggunakan masker berkualitas sebaik mungkin, dengan masker N95 sebagai pilihan terbaik.
Di dalam ruangan, Tjandra mengimbau warga menutup celah yang memungkinkan udara luar masuk. Penggunaan air purifier diperbolehkan jika sudah tersedia, namun ia menekankan bahwa alat tersebut bukan keharusan bagi semua orang. Efektivitasnya pun belum tentu optimal ketika asap sangat pekat, sehingga tidak perlu ada dorongan untuk membelinya secara massal.
Untuk kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penderita komorbid, Tjandra meminta agar gejala seperti batuk atau pilek tidak dibiarkan berlarut-larut. Ia menganjurkan agar warga segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan pada hari yang sama saat gejala muncul, mengingat paparan asap berlangsung terus-menerus setiap menit. Penderita asma secara khusus diminta menyesuaikan pengobatan mereka selama periode ini.
Kondisi ini terjadi di tengah situasi yang sudah cukup serius. Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 5,4 juta orang di tujuh provinsi terdampak karhutla, yakni Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan — semuanya telah menetapkan status siaga darurat bencana. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengungkapkan bahwa hingga akhir Agustus 2026, lebih dari 50 ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) telah tercatat, dengan hampir 40 ribu di antaranya menimpa kelompok usia di atas lima tahun termasuk lansia.
Tag: karhutla, kualitas udara, ISPA, kesehatan pernapasan, PDPI