Berita MikroKabar terbaru Indonesia, tiap hari.
Kesehatan

Erupsi Anak Krakatau: Kemenkes Aktifkan HEOC dan Siapkan Alat Medis untuk Gangguan Pernapasan, Mata, dan Kulit

2026-09-06 12:32 WIB · aindari · 👁 930 dibaca

Kementerian Kesehatan mengaktifkan pusat operasi darurat dan menyiapkan berbagai perlengkapan medis menyusul dampak kesehatan dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebar hingga Jakarta dan Bengkulu.

Erupsi Gunung Anak Krakatau memicu respons kesehatan nasional setelah abu vulkanik terbukti mengganggu pernapasan, mata, dan kulit warga di sejumlah wilayah. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengumumkan pengaktifan Health Emergency Operating Centre (HEOC) sebagai langkah koordinasi penanganan dampak kesehatan bencana ini.

Dalam konferensi pers di Jakarta pada Minggu, Budi menyebutkan pihaknya menyiapkan nebulizer dan konsentrator oksigen untuk menangani gangguan pernapasan, obat tetes mata untuk iritasi, serta salep kulit bagi warga yang terpapar partikel abu. Selain itu, Kemenkes akan mengeluarkan surat edaran berisi panduan rinci bagi tenaga kesehatan di seluruh kabupaten dan kota yang terdampak.

Kepada masyarakat, Budi menyarankan agar sebisa mungkin tetap berada di dalam rumah. Bila terpaksa keluar, warga diimbau mengenakan masker dan kacamata pelindung untuk mencegah partikel abu masuk ke saluran pernapasan maupun mata. Setelah beraktivitas di luar, kulit harus segera dibersihkan. Ia juga mengingatkan agar mata yang terkena abu tidak dikucek, melainkan dibilas dengan air bersih atau obat tetes mata, dan segera ke puskesmas bila kondisi memburuk. "Jangan panik, stay at home and stay healthy," tegasnya.

Di sisi penanggulangan bencana, Kepala BNPB Suharyanto menyatakan pihaknya menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan dua teknik. Teknik pertama bertujuan mendatangkan hujan agar abu vulkanik yang mengganggu aktivitas warga sejak sehari sebelumnya dapat luruh lebih cepat. Apabila pertumbuhan awan hujan tidak memadai di wilayah Jakarta, Banten, dan Lampung, BNPB bersama BMKG akan menerapkan metode water mist untuk mengurai partikel abu berbahaya di udara. BNPB juga telah mulai mendistribusikan logistik dasar termasuk masker kepada masyarakat terdampak, seraya berkoordinasi dengan Kemenkes dan kementerian terkait lainnya.

Sementara itu, BMKG mengintensifkan pemantauan 24 jam terhadap aktivitas erupsi dan dampaknya terhadap atmosfer, jalur penerbangan, serta kondisi laut di sekitar Selat Sunda. Berdasarkan analisis citra satelit pukul 08.00 WIB pada hari yang sama, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang mencakup wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu. Data BNPB sebelumnya mencatat setidaknya 15 kecamatan di Lampung dan Banten telah terdampak erupsi ini.

Tag: Anak Krakatau, kesehatan bencana, abu vulkanik, HEOC, BNPB